AI di dunia pendidikan ibarat pisau bermata dua. Temukan manfaat AI untuk efisiensi belajar serta risiko ketergantungan yang mengancam daya berpikir kritis.
Di tahun 2025 ini, penggunaan kecerdasan buatan (AI) di dalam dunia pendidikan sudah sangat marak, banyak guru, siswa dan mahasiswa sudah mulai memanfaatkan teknologi ini untuk mempermudah belajar mengajarnya, melalui AI mencari referensi, latihan soal, bahkan untuk menilai hasil belajar jadi jauh lebih mudah, cepat dan bukan jadi hambatan lagi bagi para pengajar, siswa dan mahasiswa.
Penggunaan teknologi seperti ChatGPT, Gemini, dll, udah sangat sering sekali digunakan oleh mereka, bahkan sebagian siswa dan mahasiswa jadi mulai ketergantungan oleh AI untuk mencari jawaban jawaban, dari guru, hal ini menyebabkan kurangnya berpikir kritis dan dapat menurunkan kemampuan otak mereka karena sudah terbiasa menggunakan teknologi tersebut.
Hal ini juga didukung oleh jurnal yang saya temukan di internet yaitu “Effect of GenAI Dependency on University Students’ Academic Achievement: The Mediating Role of Self-Efficacy and Moderating Role of Perceived Teacher Caring”.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa ketergantungan terhadap AI memiliki pengaruh negatif terhadap prestasi akademik, baik secara langsung maupun melalui penurunan rasa percaya diri dalam belajar (self-efficacy). Hasil penelitian itu mencatat bahwa efek langsung dari ketergantungan terhadap AI terhadap prestasi akademik mencapai 85,26%, sementara efek tidak langsung melalui self-efficacy sebesar 14,74%. Dengan kata lain, sebagian mahasiswa mengalami dampak signifikan akibat ketergantungan terhadap AI.
Meskipun demikian, AI dalam dunia pendidikan juga punya banyak manfaat lohh, walaupun stigma orang lain terhadap AI di dunia pendidikan tidak terlalu bagus, justru di teknologi ini memiliki banyak sekali manfaat manfaat yang bisa dimanfaatkan oleh para siswa dan mahasiswa. Berikut beberapa contoh dari penggunaan AI dibidang pendidikan:
Mempermudah akses belajar, melalui teknologi ini para mahasiswa dan siswa dapat melakukan brainstorming sendiri serta mengeksplor terkait topik pembelajaran di dunia teknologi dan tidak jarang, mereka menjadikan AI sebagai mentor atau guru keduanya, dikarenakan informasi yang banyak banget
Mendukung pembelajaran yang lebih menarik, seperti sebelumnya yang saya singgung bahwa AI selain dijadikan mentor atau guru ke dua untuk bertanya, AI pun bisa sampai memberi latihan soal soal kepada siswa, mahasiswa dan memberikan pembelajaran yang menarik, entah dijadikan gamifikasi atau pun yang lain.
Meningkatkan efisiensi guru dan dosen, AI sendiri ternyata juga sangat bermanfaat bagi para pengajar(guru atau dosen), dikarenakan dengan menggunakan AI, para guru dan dosen bisa dengan cepat menganalisis hasil kinerja para siswa dan mahasiswa, membuat soal dari yang gampang hingga kritis dan dapat menilai tugas siswa secara otomatis. Hal ini mempercepat kinerja para guru dan dosen dalam menghemat waktu
Akan tetapi, setelah melihat berbagai manfaatnya, penggunaan AI dalam dunia pendidikan tentu juga memiliki sejumlah risiko yang tidak bisa diabaikan. Jika tidak digunakan secara bijak, AI justru dapat membawa dampak negatif bagi siswa, mahasiswa, maupun para pendidik.
Dapat ketergantungan terhadap AI, seperti yang kita singgung sebelumnya didalam salah satu jurnal, ternyata terlalu sering menggunakan AI untuk mencari suatu jawaban dari sebuah tugas, justru membuat kita menjadi malas menjadi berpikir. Hal ini terjadi karena kita pasti akan terlalu menganggap remeh suatu tugas tersebut, sebab AI dapat mengerjakan tugas tersebut dalam waktu singkat
Menurunnya kemampuan berpikir kritis, penggunaan AI yang berlebihan ternyata juga membuat daya pikir kritis kita menjadi menurun, karena terbiasa menerima suatu informasi yang secara instan dan cepat